Thursday, July 31, 2008

Meneran Semerah Pundi

Berderu angin menampar pipi dengan deras, bergoncang gegar seluruh angota badan di medan padang pasir terbentang luas. Pecutan membawa diri gagah laksana perkasa...

Hei! kersani mengalir lah dikau
Menjadi raksa
Mengisi belikat punggungku
Agar aku bisa berdiri
Tegap dan segak
Bagaikan laksmana Melayuuuuuu...

Tanpa pelana mengalas punggung tanpa tali pandu tanduk penganti meneraju perwira maju gerak ke arah tempur deras mara bakal melanggar gerombolan...

Hei! sepuluh helai daun sirih
Ku gentas bersama
Bunga cengkih jadilah dikau
Darah merah pekat
Mengisi uratku
Agar bisa aku berlangkah
Gagah dan tampan
Bagaikan sijantan yang berkokok

Panji hijau di arak gagah membelah angin yang tak punyai arah. Musuh melihat perwira deras memacu kuda berlari pantas dari jauh kelihatan kerdil tapi semangat panji tetatp erat Ku gengam atas nama agama tercinta

Di mana bumi ku pijak
Di situ langit ku junjung
Alang-alang menyeluk pekasam
Biar sampai ke pangkal lengan

Aku seru mentera pusakaku
Mentera semerah padi

Dan terus berarak mengegam erat panji-panji tegap, tak berpaling terus mara deras bersama kuda yang tak kenal lelah terus mara dengan satu laungan semangat waja “Yearggghhhhhhhhhhh....panji berkibar...yearhhhhhhwwoooo..woi...woiii....woooiiiii..woi.woi..woi”

“Woiii...hoiiii..turun..tuuurrrruunnnnn...kambing tu nak buat sembelih Aqiqah kejap lagi...orang suruh tambat ko pegi tunggang macam kuda buat apa..buang tebiat apa” Nenek aku kacau daun betul lah.

Huuh!

No comments: